Bagian ketiga

Aku, Desisil Ambarwati. Dua puluh tiga Desember usiaku bertambah menjadi dua puluh enam tahun. Saat itulah, semua orang akan bertanya, kapan aku menikah?. Hmm, tiap bertambah usia, selalu diberikan pertanyaan yang sama. 

Menikah itu pilihan, batinku. 
Selama ini juga aku masih terus berusaha melupakan kejadian lima tahun yang lalu, bersama Sigi Winara. 

2017
 Aku bertemu dengannya tidak sengaja, di salah satu konser band metal di Jogjakarta. Ya, kami hanya sekadar, ku fikir hanya kebetulan saja. 

Malam itu Jogjakarta sedang hangat, beberapa band sudah tampil dan tibalah guest star tampil, yupsss penampilan salah satu band favoritku. 
Jika aku sedang banyak fikiran ingin sekali pergi jauh dari rumah. Seperti sekarang. 
Jogjakarta, kota pelarian ku. 

Hai, aku Sigi. 

Ya, Hai, Aku Desisil. 

Hanya berkenalan, sambil menyeduh kopi hitam. Suara hingar bingar musik dan sedikit suasana jogjakarta yang lebih hangat. 

Tiga hari berlalu, aku putuskan untuk kembali ke Surabaya. 
Tidak ku sangka, aku bertemu Sigi lagi. 

Mau balik ke Surabaya juga? 
Oh ya, hari ini. Kenapa disini? 
Aku juga balik. 
Kemana? Sendirian? 
Menurutmu? Ayoo masuk, kereta sebentar lagi berangkat.

Aku pun menuruti begitu saja. 
Diam dan saling kikuk, entah apa yang harus kami bicarakan. Sesekali aku melihat Sigi sedang memainkan handphone, entahlah sedang berkabar dengan kekasihnya mungkin. 

Dua belas jam perjalanan, hingga akhirnya kami sampai di Surabaya. 
Aku duluan ya, kamu hati-hati. Oh ya, Terima kasih. 
Sudah ada yang jemput atau bawa kendaraan sendiri? 
Aku pesan ojek online.
Jangan, aku antarkan pulang saja. Aku senggang sekarang. 
Jangan deh, kamu capek kan.  Sudah ya. 
Gak apa, ini masih dini hari mana ada ojek online. 
Ah ya benar saja, dan aku menerima tawaran Sigi. 

Usai sampai rumah, aku tidak memberi izin Sigi untuk mampir, jelas saja karena terlalu dini hari. Dan aku sempatkan bertukar nomor handphone. Untuk ucapan terima kasih, aku memberikan janji temu untuk makan siang bersama dir restoran fastfood. 

Sigi Winara, pria berusia dua puluh delapan tahun. Yang baru saja aku kenal. Memang tampan, pantas banyak perempuan yang berusaha untuk mengenali Sigi. Aku melihat beberapa kali perempuan curi pandang terhadap Sigi saat di Jogjakarta. 

2018
Satu tahun berkenalan, akhirnya Sigi menyatakan cinta kepadaku. Ya, aku terima saja, syukur-syukur saat ada acara keluarga aku bisa mengajak Sigi juga. 

Kami berhubungan sewajarnya, jatuh cinta itu biasa saja. Saling berkirim pesan dan bertemu saat waktu luang, membeli novel atau pun kaset pita kesukaan Sigi. Gaya rock & roll Sigi lah yang membuatku jatuh hati, selalu memberiku banyak pengetahuan baru. Hingga tercetuslah, bagaimana jika aku menulis novel romance bersamanya. Bagian kesatu, bagian kedua selesai. Bagian ketiga, hubungan kami sedikit kurang baik. Uring-uringan dan bertengkar mengenai hal-hal kecil. 

Dasar perempuan jalang!! 
Ini semua karena kamu selalu saja mengganggu. Jika tidak bisa membantu sebaiknya jangan merusaknya. 

Apakah ini Sigi yang ku kenal? Berkali-kali mengumpat kata kasar untukku, tak segan melukai fisik, entak sebuah tamparan & jambakan di rambut. Astaga, Tuhan baru saja aku berharap untuk segala hal baik dalam hidup ini. 

Tepat di hari ulang tahunku yang dua puluh dua tahun, kejadian buruk silih berganti. 
Sigi, pria yang begitu aku cintai.. 
Aku mendapati kabar ia akan menikah dengan mantan kekasihnya. Lalu, aku?
Tidak ada kata putus atau pun sekadar perpisahan selamat tinggal. 

Undangan pernikahan telah tiba di rumah. 
Aku tatap nanar undangan berwarna peach orange di meja kamarku. Bodohnya aku. 

Menguatkan hati yang entah rasanya tidak bisa aku definisikan, tidak bisa aku ucapkan. 

Selain kepergian, hal yang menyakitkan ialah ; bertamu tanpa pamitan. 

Sebuah tulisan bagian kesatu dan bagian kedua, ternyata Sigi menceritakan perempuan itu, bukan aku. Maka aku harus meneruskan bagian ketiga tanpa Sigi.

Menghapus bagian kesatu dan kedua, biarkan. Biarkan saja tidak usah bersusah payah melupakan, aku tahu diri, tidak ada hati untukku singgah di dunia Sigi. Oh.. Ataukah aku hanya kegeeran saja. Satu tahun bersama, hanya tinggal cerita tanpa prolog. 

Kepalaku pusing, jauh menerawang masa depan. 

2022

Berhenti bertanya apakah aku baik-baik saja, coba pikirkan sendiri. Berhenti untuk baik-baik saja, Terima saja kenyataannya. Karena lelaki itu mengajariku untuk menerima segala hal, baik atau buruk tidak masalah, terimakasih Sigi. 

Komentar